07/08/2022

AsiaNationNews.com

Honesty – integrity – Trust

Warga Gampong Alue Gadeng Dua, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur pada Sabtu hingga malam Minggu (25/01/20) sukses menggelar hiburan rakyat berupa budaya kesenian tradisional kuda kepang

Seni Budaya  Kuda  Kepang Dikembangkan Masyarakat Alga Dua

Langsa, 28 Januari 2020

” Seni Budaya  Kuda  Kepang Dikembangkan Masyarakat Alga Dua “

Warga Gampong Alue Gadeng Dua, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur pada Sabtu hingga malam Minggu (25/01/20) sukses menggelar hiburan rakyat berupa budaya kesenian tradisional kuda kepang

NBA/ANN, Kota Langsa. Warga Gampong Alue Gadeng Dua, Kecamatan Birem Bayeuen, Kabupaten Aceh Timur pada Sabtu hingga malam Minggu (25/01/20) sejak pukul 15.00 sampai dengan 23.00 wib, sukses menggelar hiburan rakyat berupa budaya kesenian tradisional kuda kepang yang dominan diminati elemen masyarat. Kesenian Jawa kuda kepang tersebut diterapkan tanpa pandang lokasi tentunya sebagai wujud mempertahankan serta menumbuh kembangkan adat kebudayaan ciri khas jawa dimanapun berada. Tujuannya, agar seni budaya kuda kepang tetap diminati dan tidak mudah terlupakan. ” Sehingga para generasi muda kita dapat meneruskan masa depan kesenian jawa yang sangat digandrungi seluruh elemen masyarakat Jawa di Aceh,” papar  warga setempat yang lagi asyik menonton aksi kuda kepang tersebut.

Lain halnya dengan masyarakat dan Pemerintah Aceh. Kedua elemen terkesan melupakan seni budaya tari saman (seudati) asli persi “Syech Lah Geunta” maupun sang rival “Syech Lah Bangguna. Demikian pula dengan nasib syech syech pelakon seudati lainnya. Mereka seperti terkubur dan terlupakan. ” Untuk duka ini mari sama sama kita ucapkan ” Selamat tinggal kalimat mutiara seudati asli dalam legenda, ” SIN LAHIN LAHO, HAI ADO SIN LAHIN LAHO ” Amin dan Aman. Konon pula sekarang ini telah dilahirkan Saman (seudati) Aceh gaya baru produk Aceh Gayo yang begitu tampil langsung populer. Bahkan aksi Saman baru ala Gayo ini melejit kemasyurannya hingga keluar negeri. ” Ini tentunya  sebuah prestasi yang sangat luar biasa. ”

Ditambah lagi dengan membludaknya kucuran dana anggaran pengembangan seni budaya yang terkubur didalam kantor Wali Nanggroe Malik Mahmud. Nilainya fantastis dan cukup menjanjikan bagi kemakmuran pengembangan kebudayaan di Aceh.   Sayangnya, mengapa telah sejauh ini sepertinya belum terlihat adanya kemampuan pelaku anggaran untuk menggelitik semangat juang generasi muda anak bangsa dalam hal membangkitkan kembali ranah ranah seni budaya istimewa Aceh yang telah sekian lama lenyap akibat dikubur. Ironisnya, para syech penggiat seni budaya tari saman (seudati) terdahulu, pada masa kejayaannya telah mengangkat derajat, harkat dan martabat seni budaya Aceh ke momen nasional hingga menggaruk pada tingkat internasional. ,” Terlebih lagi sekarang ini, kan’ jelas kita lihat bahwa lirik dan lagu adat kebudayaan kebanggaan Bangsa Aceh berangsur luntur nyaris tenggelam dalam lautan perasaan. Produk kebanggaan Bangsa Aceh tersebut yakni, ” Bungong Jeumpa, Bungoeng Seulanga, Ranub  Lampuan dan Jak Keuno Rakan Tajaktoeb Pade. ” Lirik dan lagu nyaris kabur dibawa mabur, entah kemana. Yang pasti kumandang budaya seni tersebut sudah langka terdengar dirumahnya sendiri, Nanggroe Aceh,” ungkap Ambo Asse Azis, salah seorang pengamat sejarah, dan seni budaya di Aceh. Minggu (26/01/20) saat dikonfirmasi lewat telepon seluler.  (Liputan Cik).