Makrifat Qur’an Dalam Pandangan Tasawuf Sumbawa dan HOS Tjokroaminoto.

27 April 2021

 

Laporan : Roni

Penulis Artikel : Afdhol Ilhamsyah

Makrifat Qur’an Dalam Pandangan Tasawuf Sumbawa dan HOS Tjokroaminoto.

Al Qur’an sebagai kodifikasi suratan-suratan Tuhan Yang Maha Esa ialah salah satu material yang mengandung kebijakan Tuhan tanpa boleh alias haram untuk di revisi.

Tetapi menariknya, kapan kita mengenal Tuhan sebenarnya, kapan kita beragama, agama apa yang kita anut ?

Al Qur’an berisi surat bijak Tuhan yang kemudian dalam kebiasaan sehari-hari oleh kita dibacanya sejak kecil yang boleh saja dikatakan samacam agama warisan orang tua. Atau boleh saja beberapa orang yang muallaf atas hidayahnya. Karena sesungguh-sungguhnya Tuhan bisa membolak-balikan hati manusia, Tuhan Maha segala-galanya. Pun jika kita meyakini adanya Tuhan, apapun Tuhannya.

Selain Al Qur’an dan Hadits, benda-benda di sekeliling kita sebenarnya terdapat satu zat yang tidak banyak orang bisa merasakannya bahwa terdapat zat yang sama dimiliki Tuhan yang sewaktu-waktu Tuhan akan berkehendak memperlihatkan diri-Nya.

Aku jadi ingat pesan kakek yang kalau tidak salah ketika duduk di bangku kelas 2 MTsN Empang, sekarang MTsN 2 Sumbawa. Dengan bahasa Sumbawanya bilamana diartikan begini kira-kira, “Cucu, Tuhan itu ada di mana-mana. Sederhana tapi tidak gampang. Tidak banyak orang mampu menembus ruang-ruang itu. Saling menyukai lawan jenis karena ada Zat yang sama. Menempelkan kayu dengan paku karena ada Zat yang sama. Jika ban motor yang bocor kemudian ditambal, tentunya dengan benda yang mengandung Zat yang sama pula. Lem bisa menempel karena ada Zat yang sama. Tidaklah mungkin bisa bertemu tanpa ada Zat yang sama. Begitu juga manusia dengan Tuhan. Jika ingin mempertemukan diri dengan Tuhan, maka pertemukanlah Zat yang sama. Zat yang dimiliki Tuhan dan Zat yang ada dalam jiwa mu”.

Amat selaras seperti apa yang pernah diucap seorang guru bangsa H.O.S Cokroaminoto, guru dari Presiden pertama Republik Indonesia-Soekarno. Bahwa Islam sejati ialah bagaimana Islamis yang dengan keyakinan dan syariatnya itu bisa menembus ruang-ruang keNabian mencapai sifat-sifat yang dimiliki Tuhan (Allah SWT), Paripurna Manusia. Aku begitu terkesima tatkala mengkilas balik kaitannya ucapan kakek sekitar 8 Tahun silam dengan pemikiran Cokroaminoto yang ku susuri dewasa ini. Begitu kiranya bincangan-bincangan kampung dengan kakek yang tak ada dalam kurikulum pendidikan hari ini yang dikit-dikit cuman bicara bisnis, dikit-dikit enterpreneur.

Bicara soal bisnis, bahkan seorang lulusan kampus Jawa, seorang Dosen yang pernah mendidik ku, eh salah…. bukan mendidik, tapi menjual jasa (mohon maaf), pernah mengatakan menjadi pengusaha itu gampang sekarang. Banyak cara kita berusaha atau bisnis. Contohnya kampus ini adalah perusahaan di sektor pendidikan. Dalam hati ngedumel, kok bisa-bisanya jadi dosen orang kayak gini yah ? Entahlah, lupakan saja sejenak soal bisnis mengerikan itu.

Benda dalam semesta ini ialah menyiratkan pula bijak Tuhan. Pada fisik manusia misalnya “Mata pang Aku, pangita pang diri Ana. Kuping pang Aku, pamenong pang diri Ana. Ima Ne pang Aku, panguit pang diri Ana”. Dalam pengertian bahasa Indonesia, “Mata ada pada diri Ku, namun penglihatan ada padaNya. Telinga ada pada diri Ku, namun pendengaran ada padaNya. Kaki tangan ada pada Ku, namun gerak ada padaNya”. Ngaji dengan orang-orang tua memang menarik untuk memahami hidup dan kehidupan.

Pun dalam hati dan jiwa manusia ada rasa sebagai penyempurna mata dan telinga, serta yang lainnya agar rasa itu dapat mengimbangi segala urusan dunia dan akhirat. Maka bijaksanalah itu pengharapan.

Singkat saja, Aku cuma ingin katakan bahwa Al Qur’an dan Hadits ialah bijak Tuhan yang tersurat. Material lainnya, telinga dengan jumlahnya dua sedangkan mulut jumlahnya satu, menyiratkan bahwa bijak agar sekiranya banyak mendengar dari pada berbicara. Tidak tahu dari pada pura-pura tahu. Dengarkan jika diberitahu. Analisa setelah didengar. Simpulkan setelah dianalisa. Lakukan setelah disimpulkan. Jangan cuma di Iyah kan saja. Maka bijaklah jikalau memilki rasa dan saling menghargai.

Sebagai penutup coretan ini, boleh juga sebagai pembuka fajar penuh berkah ini sejenak Aku ucapkan Yaumil Milad yang hari ini bertambah usia menjadi 20 Tahun. Doa terbaik Ku Munajatkan. Di luar itu, Aku sering katakan di manapun dalam konteks materialistik dan keghoib’an ~”Jika ingin menyatu dengan Tuhan, maka menyatulah dengan alam. Jika ingin bersahabat dengan Tuhan maka bersahabatlah dengan alam’.

27 April 2021 M
25 Ramadhan 1442 H

Penulis: Afdhol Ilhamsyah / Sekretaris DPK PRIMA Sumbawa, Aktif di Organisasi Kemahasiswaan LMND dan Aktivis Peneleh Jang Oetama.

(RN006)

admin

Next Post

Laki laki Dan Wanita Miliki Sabu Berinisial AK Dan HA Ditangkap Tim Puma Satuan Reskrim Polresta Bima

Sel Apr 27 , 2021
27 April 2021   Laporan : 003/Saif   Laki laki Dan Wanita Miliki Sabu Berinisial AK Dan HA Ditangkap Tim Puma Satuan Reskrim Polresta Bima BIMA (ANN) – Tim Puma ⁶Satuan Reskrim Polres Bima Kota yang dipimpin AIPDA Abdul Hafid menangkap seorang pria berinisial AK (39) yang diketahui sebagai bandar […]

Breaking News

Contains all features of free version and many new additional features.

Kategori