Ketua EK LMND Sumbawa Sorot Misi Mo-Novi Sumbawa Sehat dan Cerdas

02 Mei 2021

 

Laporan : Roni

 

Penulis : Afdhol Ilhamsyah

Esitor  :  PO

Ketua EK LMND Sumbawa Sorot Misi Mo-Novi Sumbawa Sehat dan Cerdas

 

Gambar : Afdhol Ilhamsyah (Ketua LMND kab. Sumbawa)

Sumbawa (ANN) – Setiap kita sedari kecil sudah barang tentu memiliki hasrat atau keinginan untuk menggapai tentang suatu hal. Mengenal banyak hal adalah hal lumrah yang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Tak disangka bilamana kadang tidak semulus hasrat atau keinginan untuk menggapai tentang suatu hal yang dicitakan. Lambat laun, banyak hal yang menjadi pertimbangan sehingga kita mungkin merasa kebingungan dan bahkan apa yang dicitakan tak dapat untuk digapai. Tak heran jika banyak orang yang mengalami gangguan jiwa lantaran tak sanggup menahan depresi berat akibat dari apa yang menjadi cita-cita namun tak tergapai. Bahkan ada yang bunuh diri. Semoga saja kita tak demikian.

Bukanlah hal mudah tiap-tiap orang dapat menyesuaikan diri tatkala terjadi hal-hal yang yang kemudian menginterupsi perjalanan hidup. Sebagai individual yang resmi beridentitas Warga Negara Indonesia (WNI) sudah selayaknya mendapatkan haknya sebagai Warga Negara Indonesia. Bicara tentang hak, tentunya sangat erat kaitannya dengan Hak Asasi Manusia. Kaitannya dengan Hak Asasi Manusia, terdapat muatan yang membicarakan tentang pendidikan. Hak Asasi Pendidikan sudah dijamin oleh konstitusi Negara. Tidaklah mungkin negara ini berdiri tanpa ada kontrak politik antara negara dengan warganya. Pun salah satu sarat berdiri negara ialah harus ada masyarakat atau penduduknya.

Amat terlalu banyak produk kebijakan negara yang tentunya bersumber dari Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Undang-undang Dasar sebelum amandemen hingga amandemen terakhir tak luput jua bicara tentang Hak Asasi Manusia, termasuk Hak untuk mengakses pendidikan.

Perdebatan soal pendidikan juga terjadi dikalangan pejuang-pejuang Nusantara saat itu, di mana Indonesia masih di bawah cengkraman kolonialisme Hindia Belanda. Cokroaminoto dengan gaya diplomasinya Dewan Rakyat sebagai panggung peribumi untuk menyampaikan aspirasi peribumi kepada pemerintahan Hindia Belanda. Kembali soal pendidikan, ternyata pendidikan adalah termasuk yang paling dasar untuk dipenuhi negara terhadap warganya kemudian dapat diakses dengan mudah dan demokratis.

Amanat ini tertuang dalam alinea keempat pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam rangka mencerdasarkan kehidupan bangsa. Tak hanya itu dalam kesatuan naskah UUD 1945, pasal 28C ayat 1 Undang-undang Dasar Negara Tahun 1945 juga mengatakan “Setiap orang berhak mengembangkan  diri melalui pemenuhan  kebutuhan
dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.

Kemudian pasal 28E ayat 1 “Setiap orang bebas memeluk  agama dan  beribadat  menurut agamanya, memilih  pendidikan  dan pengajaran, memilih  pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih  tempat tinggal  diwilayah  negara dan
meninggalkannya, serta berhak kembali”.

Diperkuat pula pada BAB XIII tentang Pendidikan dan Kebudayaan dalam UUD 1945 yakni Pasal 31 ayat 1-5. Belum lagi kalau kita bicara peraturan perundang-undangan turunan lainnya yang membicarakan hak-hak warga negara Indonesia dalam mengakses pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Indonesia yang kaya dengan suku, agama, bahasa, adat istiadat serta budaya adalah keharusan negara untuk menerima itu semua namun tetap berlaku adil terhadap warga negaranya. Dengan kekayaan dan kekuatan budaya ini sekiranya negara dapat menjembatani pikiran-pikiran tentang keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti apa budaya kita orang Indonesia sebenarnya ? Apakah budaya yang sebagaimana disirahkan dalam Pancasila ? Atau budaya liberalistik yang diselipkan dalam kurikulum pendidikan Nasional ?

Terlihat nampak begitu jelas kualitas pendidikan di Indonesia hari ini yang serba digital dan menjauhkan kita dari interaksi sosial. Manusia generasi Indonesia dalam pengertian kuantitatif maupun kualitatif kalau kita bayangkan seperti sekoci yang terapung ditengah hamparan luas samudra. Mengapung tak ada tujuan jelas. Tenggelam dan mati mungkin lebih jelas dari pada pasrah nan berharap hidup pun akan menyakitkan dan menyiksa. Tugas kita bersama sangat berat. Pendidikan adalah jawaban seperti apa generasi kita akan datang. Pendidikan tua yang sarat akan budaya dan mistik dianggap kuno dan tidak mengikuti perubahan dan perkembangan dunia. Pendidikan gaya modern yang kompetitif serba tekhnologi juga merusak hubungan sosial antar umat manusia.

Setiap hari anak-anak atau adik-adik kita mulai setelah mata terbuka dan terbangun dari tidurnya acapkali segera mencari handphone. Dalam otaknya hanya game online. Jika kuota habis, pojokan gang tempat Wi-Fi ramai dengan anak-anak yang sedang asik bermain game online. Tak hanya itu, tongkrongan kopi yang biasanya tempat diskusi kini menjadi tempat bermain game online. Colokan listrik dipenuhi charger yang senantiasa standby terhubung. Bahkan hingga bahasa sehari-hari pun kelihatan bergeser dengan istilah-istilah yang lebih banyak kata tidak sopan dan santun. Inilah kondisi bangsa kita hari ini yang semakin tak berperikemanusiaan.

Setelah melalui banyak tahapan kegaduhan penyelenggaraan politik, enam hari yang lalu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa terpilih resmi dilantik. Rentang waktu periode ini tidak lama, hanya sekitar tiga setengah tahun. Waktu tak boleh disia-siakan. Ada banyak program-program yang harus segera tertunaikan sesuai harapan. Karena sudah pasti biasanya berganti rezim berganti pula programnya. Maka kesigapan dan kecekatan harus membersamai agar perubahan dan perbaikan dapat dirasakan masyarakat Sumbawa.

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi adalah lembaga atau organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang sangat menorehkan perhatiannya pada pendidikan. Meski juga tak kaku memerhatikan persoalan-persoalan sosial lintas sektor. Kali ini, melalui mimbar ini kami menyorot seperti apa kesiapan dan strategi Mo-Novi untuk mewujudkan visi dan misinya. Menarik untuk ditelisik misi Mo-Novi Sumbawa Sehat dan Cerdas. Pertama tentang Sumbawa Sehat. Kesehatan termasuk merupakan pelayanan paling mendasar selain pendidikan. Perlu digaris bawahi bahwa orientasi kesehatan adalah soal kemanusiaan. Selain peningkatan mutu pelayanan kesehatan, Ambulan desa dan peningkatan tenaga kesehatan juga jadi misi Mo-Novi. Konon salah satu cara peningkatan tenaga kesehatan dari misi Mo-Novi dengan cara memberikan beasiswa jenjang S1 Kesehatan.

Kedua, Sumbawa Cerdas. Seperti apa gambaran Sumbawa Cerdas. Dari masa ke masa, beasiswa atau bantuan pendidikan tetap terus digelontorkan baik dalam jumlah kecil maupun jumlah besar. Apalagi misi Mo-Novi mengenai Sumbawa Sehat dan Cerdas akan memberikan bantuan untuk pendidikan tinggi lokal senilai minimal 1 Miliyar pertahun. Bantuan untuk pendidikan swasta (TK, SD, SMP) 1 Miliyar pertahun. Seperti apa penjabaran 1 Miliyar pertahun. Apakah bantuannya perlembaga atau total alokasinya di bagi jumlah lembaganya. Ini salah satu yang mesti dibincangkan bersama.

Mengenai hak-hak mengakses pendidikan tak boleh hanya bicara hak pada umumnya saja. Harus diingat bahwa di Indonesia, di Sumbawa khususnya terdapat banyak penyandang disabilitas yang tak boleh kita menutup mata. Hak-hak itu sudah barang tentu melekat pada diri warga negara Indonesia tanpa mendeskriminasikan suku, agama, kelamin, ras, dan lainnya. Kendati bantuan itu diperjelas nantinya, itu tidak cukup untuk menjawab ketimpangan dan gejolak yang selalu laris muncul di tengah-tengah hiruk pikuk bangsa yang krisis karakter. Penanaman karakter bangsa jauh sekali dari harapan. Betapa tidak jika corak kurikulum pendidikan hari ini benar-benar los kontrol negara dalam rangka membangun kepribadian bangsa.

Pemuda dan generasi bangsa Indonesia hari ini krisis karakter. Muatan pendidikan serba bicara bisnis/enterpreuner. Seberapapun banyaknya bantuan pendidikan, beasiswa pendidikan tidaklah menjamin kualitas bangsa yang berkarakter. Bayangkan saja orientasi pendidikan maupun kesehatan hari ini pada konsep perencanaannya memiliki target profitable/keuntungan. Lalu apa tujuan pendidikan sebenarnya. Apa tujuan pelayanan kesehatan sebenarnya. Banyak orang melihat dan menyaksikan ini biasa-biasa saja. Padahal ini persoalan yang fundamental pula.

Melalui power yang dimiliki oleh bupati dan wakil bupati kami sangat berharap agar penguatan karakter itu bisa ditanamkan melalui kurikulum pendidikan dan juga tempat-tempat pengajian. Berkali-kali harus saya sampaikan bahwa segala bentuk cita-cita perubahan itu melalui pendidikan yang harus dilandasi karakter kemanusiaan. Terlebih lagi dipurnakan dengan religiusitas.

Di hari Pendidikan Nasional ini, semoga ini menjadi refleksi pendidikan kita yang semakin jauh dari rasa sosial/kemanusiaan. Lebih-lebih terdapat bantuan pendidikan yang menghabiskan banyak anggaran. Jangan sampai bantuan itu justru menjadi ajang kompetisi tidak manusiawi yang jatuhnya akan menjadi sarjana tak manusiawi dan menyematkan profitable saja (keuntungan). Oleh karenanya kami juga berharap agar Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa dapat mengundang Organisasi Kepemudaan dan Organisasi Kemahasiswaan untuk dapat berdiskusi tentang lembaga pendidikan agar kembali kepada suatu badan yang benar-benar orientasi pencerdasan nan kemanusiaan. Bukan keuntungan.

Akhir kata, Selamat Hari Pendidikan Nasional

Sumbawa, 2 Mei 2021
A.I

admin

Next Post

Karang Taruna Kelurahan Melakukan Penyerahan Al-Qur'an Dan Iqro' Untuk Setiap TPQ Di Kelurahan Dara

Sab Mei 1 , 2021
02 Mei 2021   Laporan : 003/Saif   Karang Taruna Kelurahan Melakukan Penyerahan Al-Qur’an Dan Iqra’ Untuk Setiap TPQ Di Kelurahan Dara   Kota Bima (ANN) – Ketua Karang Taruna Danantraha Kelurahan Dara Kota Bima Abdul khalik S.Sos dan Wakil Ketua Fahrul akbar Spdi Melakukan Kegiatan Silahturahim Safari Ramadhan di […]

Breaking News

Contains all features of free version and many new additional features.

Kategori